Refleksi : MERDEKA dalam sebuah sinergi

13 August 2010 at 10:29 am Leave a comment

Sering kita mendengar dan mengucapkan kata sinergi, bahkan sering pula sinergi memberikan sebuah ‘semangat’ bak kata-kata slogan yang membakar. Pepatah Indonesia, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Saya berpendapat bahwa pepatah ini cocok untuk menterjemahkan kata sinergi tadi. Intinya gotong royong, bekerjasama, team work. Penyebabnya adalah persamaan maksud tujuan di satu sisi dan sekaligus perbedaan di lain pihak. Keragaman cara, keragaman potensi, keragaman-keragaman  itulah menyebabkan kita berbeda satu sama lain. Tidak seragam. Perhatikan fenomena bagaimana sepasang kekasih yang berbeda bisa menyatu dalam ikatan cinta kasih. Bagaimana perbedaan pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir  menjadi top rank BWF di nomor ganda campuran bulutangkis dunia. Perbedaan pula menyatukan nusa bangsa ini dalam kata INDONESIA.

Bisa dipahami, ketika perbedaan-perbedaan itu menyatu, membentuk satu kesatuan, ketika itulah terjadinya reaksi sinergi. Frase ilmuwan ternama menuliskan  “the whole is greater than the sum of its elements“ (Aristotle, Metaphysica), keseluruhan adalah lebih dari sekedar  jumlah dari unsur-unsurnya.  Keseluruhan adalah sesuatu yang lain daripada jumlah unsur-unsurnya.
Maka saya memaklumi apa yang sudah populer sebagai formula yang tidak matematis, 1+1>2. Tidak sekedar 2!

Unsur-unsur (bagian-bagian) itu pada kenyataannya memang bisa berdiri sendiri dalam sitemnya masing-masing. Saya mampu untuk membersihkan hanya sekedar selokan / parit yang tersumbat di depan rumah saya. Demikian pun tetangga saya, demikian pun anda, siapa pun bisa.  Bayangkan ketika itu dilakukan sendiri-sendiri, di waktu luang masing-masing yang berbeda, dengan alat dan caranya yang berbeda namun dilakukan pada satu jalur selokan/parit yang sama. Tak ada arti, tak ada hasil karena ternyata ketika hujan datang dengan lebatnya, genangan terjadi dimana-mana, untung saja bukan banjir, tapi itu pun mestinya cukup untuk menyadarkan kita. Kita harus bersinergi. Mengerjakannya bersama-sama, di waktu yang sama pula. Terbayang bukan? Lagi, INDONESIA yang penuh budaya ini membuktikan hanya dengan satu ikat sapu lidi.

Nah, analogi ini sering bisa kita pahami, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Mengapa?  Karena kita masih sering berseteru untuk menyatakan bahwa sayalah, atau unit sayalah yang terpenting dalam sistem organisasi. Padahal kita tau, bahwa kita berbicara sistem. Yang mana bagian terkecil dari sistem ini pastilah penting. Bahkan, hanya seorang tukang sapu bisu, peniup peluit penjaga parkir, pembuat bising dengan mesin potong rumputnya dan siapa pun yang kita rasa tidak lebih penting dari kita.

So, bisakah kita sukses tanpa sinergi? Rasanya kurang enak, bagai sayur kurang bumbunya.

Demikian, refleksi dari saya, semoga bermanfaat.

Entry filed under: Bulutangkis, Komunikasi, Manajemen Side. Tags: , , , , .

Regulator Otomatis ber-SNI, solusi Go Green “Gondang”, tutut atau keong sawah Sambas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Penulis di Blog-ku

Twitt saye…

Komentar Pengunjungku

Arsip Tulisan

Kalender

August 2010
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RSS Infokom

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 145,483 hits

Web Hosting Gratis

Free Website Hosting

%d bloggers like this: