Posts filed under 'Pojok Iman'
Kemponan, sebuah kebiasaan atau kesalahan?
Dalam tutur bahase sambas, karrap kite dangar urang mengatekan “oi, japai doloklah kallak kau kemponan”, jinye.
Ndak taulah ape yang dimaksudkan sebannarnye dari kate ‘kemponan’, dan yang paling umum diketahui adelah iye kate-kate yang udah ade dari gek marek, jaman nek moyang dolok. Beberape alasan yang diketahui adalah adenye balla atau marabahaye yang akan mengancam mun nddak ngikutek untuk menghindarek kemponan iye. Paling banyak biase adelah yang berkaitan dangan makanan, sehingge mun nddak dimakan di’japai’pun jadilah sehingge kite nddak kemponan. Dan makanan yang paling mengandong kemponan antarenye adelah karrak nasek, nasek pullut (pen:nasi beras ketan) dan minuman kopi.
Suah gek dolok saye suke nak nawarkan ke saudare saye bahkan paman saye yang akan berangkat kerje ke hutan ncarek kayu , “pak cik, singgah dolok minum kopi dolok yo”, kate saye nawarek minum, padahal saye tau bahwe pak cik saye dah minum kopi di rumahnye. Tapi karne pak cik saye khawater kemponan, jadi beliau singgah untuk minum atau sekedar japai (mencelupkan ujung jarinya ke dalam gelas yang berisi kopi, dan diisap ke lidah). Lebih kuat agek mun yang ditawarkan adelah karrak nasek atau pulut,….hehehe dah jaoh pun akan balik agek. Sambel marah sikit, pak cik saye ngomong, “kau tok ade-ade ajak nak mbuat aku kemponan be”, katenye sambel ngambek sikit yang saye tawarkan. (more…)
Add comment 12 November 2008
Maha Suci Engkau Ya Allah
Pagi ini setelah subuh mulai meninggalkan suasana hening dan damainya masih terasa sejuk di kulit ari anginnya bertiup nikmat.
Terawang dalam kepalaku seolah bertanya-tanya masihkah esok subuh aku masih bisa berdiri menegakkan sholat sebagai upayaku mewujudkan ketaqwaan kepada Pencipta Yang Maha Sempurna dari segala pencpta dimuka bumi ini.
Bertumpuk dosa, berderet kesalahan, apatah lagi yang bisa ku bawa kehadapan-Nya kelak untuk bisa tegak menatap wajah-Nya yang penuh Kasih selama ini kubayangkan dalam kerinduan dan berharap bertemu dengan-Nya.
Kucoba menangkat kepala mengingat amalan-amalan baik yang pernah kubuat yang dengannya kuharap mampu membawaku kehadirat-Nya namun aku jatuh tersungkur karena berat dosa-dosa yang kupikul.
Allah,.. Engkaulah Yang Maha Rahman Maha Rahim,…ku pinta dan ku minta ampunan kepada-Mu, RahmatMu meliputi segala alam semesta ini, maka Ya Allah berikanlah RahmatMu kepada hambamu ini yang penuh dosa, ampunilah Ya Allah….
Jauh ku bawa anganku seandainya aku hidup dimasa Rasulullah. Yang dengannya aku bisa berpegang teguh tanpa harus khawatir dan takut untuk menegakkan risalah yang dibawanya sebagai rahmat bagi alam dan seisinya.
Namun batinku bertanya,…ketika ku tahu bagaimana sang sahabat Abu Bakar (rodiallahuanhu) begitu yakin dan percaya akan berita yang dibawa Nabi Muhammad sepulang Isra’ Mi’raj-nya. Akankah aku juga bisa percaya, padahal begitu banyak manusia pada waktu itu membantah dan mengingkarinya?
Betapa sahabat Umar ibnu Khattab menjadi benteng pertahanan, yang dengan jiwa raganya dipertaruhkan untuk keselamatan jiwa sang baginda Nabi, bagaimana aku mampu berbuat demikian sekiranya aku juga hadir dalam suasana yang sedemikian dahsyat?
Belum lagi sahabat Usman bin Affan yang dengan segala harta dan kekayaannya dijadikan sebagai jaminan dan biaya dalam setiap dakwah dan perang melawan kezaliman dan kebathilan saat itu, dimana aku memperoleh semua kekayaan itu, yang seandainya pun ada dan banyak, mungkinkah semua itu aku pertaruhkan untuk sebuah pengabdian kepada tegaknya risalah ini? Entahlah sulit rasanya, dimana segala kenikmatan dunia begitu menggiurkan untuk dibeli dan dinikmati.
Menjadi seorang yang teguh keyakinan bagai Abu Bakar, aku tiada kuasa, mustahil! Menjadi Umar, tubuhku begitu rapuh dan dengan kerapuhanku masih berani menampilkan kesombongan dan keangkuhan. Tidak juga menjadi seorang kaya seperi Usman. Ampun,…bagaimana aku bisa hidup bersama Rasulullah jika itu semua tidak bisa au perankan?
Anganku masih ku coba untuk tetap ingin hidup di masa Rasulullah,…. kulihat seorang pemuda Ali bin Abi Thalib. Sepertinya sebagai pemuda aku mampu untuk peran sebagaimana yang diperankannya. Ku baca dan ku cari apa yang perbuatnya agar aku bisa mencontoh perannya.
Subhanallah,…. aku terpental keluar, bagaimana aku mampu berperan sebagai pemuda yang penuh dengan rasa kuat menimba ilmu, bagaimana aku mampu hidup dengan penuh zuhud tanpa apa-apa, bagaimana aku mampu mengangkat pedang maju ke medan perang terdepan sementara aku masih muda belia dan penuh keinginan dan kebutuhan untuk dipuaskan?
Masya Allah,….. astaghfirullah,Ya Allah ampunilah angan ku yang tidak mau menerima takdir-Mu untuk hidup di masa ini, yang dengan ini semua Engkau curahkan segala Rahmat-Mu tak perduli aku patuh untuk beribadah kepadaMu ataupun tidak.
Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah menyempurnakan risalah Nabi Muhammad SAW. Ampuni dan berikanlah aku petunjukMu untuk berpegang teguh kepada wasiat Nabi-Mu, Al-Quran dan Al-Hikmah (hadist-hadistnya).
Berikan aku kemudahan dan kefahaman hanya dari Petunjuk dan Ridho-Mu Ya Allah….
Bismillahi Allahu Akbar!
Add comment 12 November 2008
Hadits Hasan
Definisi
a. Secara bahasa (etimologi)
Kata Hasan (حسن) merupakan Shifah Musyabbahah dari kata al-Husn (اْلحُسْنُ) yang bermakna al-Jamâl (الجمال): kecantikan, keindahan.
b. Secara Istilah (teriminologi)
Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama hadits mengingat pretensinya berada di tengah-tengah antara Shahîh dan Dla’îf. Juga, dikarenakan sebagian mereka ada yang hanya mendefinisikan salah satu dari dua bagiannya saja.
Berikut beberapa definisi para ulama hadits dan definisi terpilih:
1. Definisi al-Khaththâby : yaitu, “setiap hadits yang diketahui jalur keluarnya, dikenal para periwayatnya, ia merupakan rotasi kebanyakan hadits dan dipakai oleh kebanyakan para ulama dan mayoritas ulama fiqih.” (Ma’âlim as-Sunan:I/11)
2. Definisi at-Turmudzy : yaitu, “setiap hadits yang diriwayatkan, pada sanadnya tidak ada periwayat yang tertuduh sebagai pendusta, hadits tersebut tidak Syâdzdz (janggal/bertentangan dengan riwayat yang kuat) dan diriwayatkan lebih dari satu jalur seperti itu. Ia-lah yang menurut kami dinamakan dengan Hadîts Hasan.” (Jâmi’ at-Turmudzy beserta Syarah-nya, [Tuhfah al-Ahwadzy], kitab al-‘Ilal di akhirnya: X/519)
3. Definisi Ibn Hajar: yaitu, “Khabar al-Ahâd yang diriwayatkan oleh seorang yang ‘adil, memiliki daya ingat (hafalan), sanadnya bersambung, tidak terdapat ‘illat dan tidak Syâdzdz, maka inilah yang dinamakan Shahîh Li Dzâtih (Shahih secara independen). Jika, daya ingat (hafalan)-nya kurang , maka ia disebut Hasan Li Dzâtih (Hasan secara independen).” (an-Nukhbah dan Syarahnya: 29)
Syaikh Dr.Mahmûd ath-Thahhân mengomentari, “Menurut saya, Seakan Hadits Hasan menurut Ibn Hajar adalah hadits Shahîh yang kurang pada daya ingat/hafalan periwayatnya. Alias kurang (mantap) daya ingat/hafalannya. Ini adalah definisi yang paling baik untuk Hasan. Sedangkan definisi al-Khaththâby banyak sekali kritikan terhadapnya, sementara yang didefinisikan at-Turmudzy hanyalah definisi salah satu dari dua bagian dari hadits Hasan, yaitu Hasan Li Ghairih (Hasan karena adanya riwayat lain yang mendukungnya). Sepatutnya beliau mendefinisikan Hasan Li Dzâtih sebab Hasan Li Ghairih pada dasarnya adalah hadits lemah (Dla’îf) yang meningkat kepada posisi Hasan karena tertolong oleh banyaknya jalur-jalur periwayatannya.”
Definisi Terpilih
Definisi ini berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ibn Hajar dalam definisinya di atas, yaitu:
“Hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil, yang kurang daya ingat (hafalannya), dari periwayat semisalnya hingga ke jalur terakhirnya (mata rantai terakhir), tidak terdapat kejanggalan (Syudzûdz) ataupun ‘Illat di dalamnya.” ……..Hukum (more…)
Add comment 28 June 2008
Hadits Qudsiy
Definisi
Secara bahasa (Etimologis), kata القدسي dinisbahkan kepada kata القدس (suci). Artinya, hadits yang dinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Ta’ala.
Dan secara istilah (terminologis) definisinya adalah
ما نقل إلينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل
Sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.
Perbedaan Antara Hadîts Qudsiy Dan Al-Qur`an
Terdapat perbedaan yang banyak sekali antara keduanya, diantaranya adalah:
- Bahwa lafazh dan makna al-Qur`an berasal dari Allah Ta’ala sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian, alias maknanya berasal dari Allah Ta’ala namun lafazhnya berasal dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.
- Bahwa membaca al-Qur`an merupakan ibadah sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.
- Syarat validitas al-Qur’an adalah at-Tawâtur (bersifat mutawatir) sedangkan Hadîts Qudsiy tidak demikian.
Jumlah Hadîts-Hadîts Qudsiy
Dibandingkan dengan jumlah hadits-hadits Nabi, maka Hadîts Qudsiy bisa dibilang tidak banyak. Jumlahnya lebih sedikit dari 200 hadits.
Contoh
Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam kitab Shahîh-nya dari Abu Dzarr radliyallâhu ‘anhu dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam pada apa yang diriwayatkan beliau dari Allah Ta’ala bahwasanya Dia berfirman,
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan menjadikannya diantara kamu diharamkan, maka janganlah kamu saling menzhalimi (satu sama lain).” (HR.Muslim) ………….Lafazh-lafazh (more…)
Add comment 28 June 2008
Imam Muslim
[disalin dari : Sejarah singkat para ahli hadist]
Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara’a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.
Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.
Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas ‘Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.
Add comment 28 June 2008
Mengenal Imam Bukhari
Jumat : 16 Mei 2008 / 10 Jumadil Akhir 1429H
Dikutip dari Hadits Web oleh Sofyan Efendi, download disini
Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari
Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya “Islam in the Sivyet Union” (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina. (more…)
Add comment 16 May 2008
Sejarah singkat Imam Syafi’i
Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.
Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath. Dimana, kapan beliau dilahirkan?…… (more…)
Add comment 10 May 2008
SMS Sesat? Kembalilah kepada Allah SWT
Putussibau, ( Jum’at : 3 Jumadil Awal 1429H/ 9 Mei 2008 )
Belakangan beredar informasi dalam bentuk sms, bahkan di kota ini pun (Putussibau) yang dalam image sebagian orang adalah tempat yang nun jauh sebelah timur Kalimantan Barat, diperhuluan Sungai Kapuas itu, sms sesat penuh dengan hal-hal magis merebak.
Rekan sekerja saya, Ahmadsyah pagi-pagi menanyakan dan bercerita bahwa di dusun tempatnya tinggal masyarakat telah dihebohkan akan berita yang datang melalui sms. Berselang sejam kemudian ketika saya membuka email, ternyata berita yang bernada sama muncul. Pesan sms itu kira-kira mengingatkan bahwa “kalau ada telepon yang nomor berwarna merah dan nomor HP yang akhirnya 0866 dan 0666 jangan diangkat karena bisa menelan jiwa. Hari ini sudah disiarkan di berita, terjadi dan sudah terbukti. Sekarang masih diusut oleh pihak kepolisian. Dugaan sementara adalah kasus pembunuhan jarak jauh melalui telepon genggam oleh dukun ilmu hitam. Si penelepon adalah roh gentayangan yang mencari mangsa. Harap dimengerti dan kirim ke teman atau saudara semua.”
Jelas ini menimbulkan keresahan disana-sini, soal nyawa lagi?
Luar biasa..! setidaknya itulah yang menjadi keheranan saya saat ini. (more…)
Add comment 9 May 2008





