Archive for November, 2008

Kemponan, sebuah kebiasaan atau kesalahan?

Dalam tutur bahase sambas, karrap kite dangar urang mengatekan  “oi, japai doloklah kallak kau kemponan”, jinye.
Ndak taulah ape yang dimaksudkan sebannarnye dari kate ‘kemponan’, dan yang paling umum diketahui adelah iye kate-kate yang udah ade dari gek marek, jaman nek moyang dolok. Beberape alasan yang diketahui adalah adenye balla atau marabahaye yang akan mengancam mun nddak ngikutek untuk menghindarek kemponan iye. Paling banyak biase adelah yang berkaitan dangan makanan, sehingge mun nddak dimakan di’japai’pun jadilah sehingge kite nddak kemponan. Dan makanan yang paling mengandong kemponan antarenye adelah karrak nasek, nasek pullut (pen:nasi beras ketan) dan minuman kopi.

Suah gek dolok saye suke nak nawarkan ke saudare saye bahkan paman saye yang akan berangkat kerje ke hutan ncarek kayu , “pak cik, singgah dolok minum kopi dolok yo”, kate saye nawarek minum, padahal saye tau bahwe pak cik saye dah minum kopi di rumahnye. Tapi karne pak cik saye khawater kemponan, jadi beliau singgah untuk minum atau sekedar japai  (mencelupkan ujung jarinya ke dalam gelas yang berisi kopi, dan diisap ke lidah). Lebih kuat agek mun yang ditawarkan adelah karrak nasek atau pulut,….hehehe dah jaoh pun akan balik agek. Sambel marah sikit, pak cik saye ngomong, “kau tok ade-ade ajak nak mbuat aku kemponan be”, katenye sambel ngambek sikit yang saye tawarkan. (more…)

Add comment 12 November 2008

Maha Suci Engkau Ya Allah

Pagi ini setelah subuh mulai meninggalkan suasana hening dan damainya masih terasa sejuk di kulit ari anginnya bertiup nikmat.
Terawang dalam kepalaku seolah bertanya-tanya masihkah esok subuh aku masih bisa berdiri menegakkan sholat sebagai upayaku mewujudkan ketaqwaan kepada Pencipta Yang Maha Sempurna dari segala pencpta dimuka bumi ini.

Bertumpuk dosa, berderet kesalahan, apatah lagi yang bisa ku bawa kehadapan-Nya kelak untuk bisa tegak menatap wajah-Nya yang penuh Kasih selama ini kubayangkan dalam kerinduan dan berharap bertemu dengan-Nya.
Kucoba menangkat kepala mengingat amalan-amalan baik yang pernah kubuat yang dengannya kuharap mampu membawaku kehadirat-Nya namun aku jatuh tersungkur karena berat dosa-dosa yang kupikul.

Allah,.. Engkaulah Yang Maha Rahman Maha Rahim,…ku pinta dan ku minta ampunan kepada-Mu, RahmatMu meliputi segala alam semesta ini, maka Ya Allah berikanlah RahmatMu kepada hambamu ini yang penuh dosa, ampunilah Ya Allah….

Jauh ku bawa anganku seandainya aku hidup dimasa Rasulullah. Yang dengannya aku bisa berpegang teguh tanpa harus khawatir dan takut untuk menegakkan risalah yang dibawanya sebagai rahmat bagi alam dan seisinya.
Namun batinku bertanya,…ketika ku tahu bagaimana sang sahabat Abu Bakar (rodiallahuanhu) begitu yakin dan percaya akan berita yang dibawa Nabi Muhammad sepulang Isra’ Mi’raj-nya. Akankah aku juga bisa percaya, padahal begitu banyak manusia pada waktu itu membantah dan mengingkarinya?
Betapa sahabat Umar ibnu Khattab menjadi benteng pertahanan, yang dengan jiwa raganya dipertaruhkan untuk keselamatan jiwa sang baginda Nabi, bagaimana aku mampu berbuat demikian sekiranya aku juga hadir dalam suasana yang sedemikian dahsyat?

Belum lagi sahabat Usman bin Affan yang dengan segala harta dan kekayaannya dijadikan sebagai jaminan dan biaya dalam setiap dakwah dan perang melawan kezaliman dan kebathilan saat itu, dimana aku memperoleh semua kekayaan itu, yang seandainya pun ada dan banyak, mungkinkah semua itu aku pertaruhkan untuk sebuah pengabdian kepada tegaknya risalah ini? Entahlah sulit rasanya, dimana segala kenikmatan dunia begitu menggiurkan untuk dibeli dan dinikmati.

Menjadi seorang yang teguh keyakinan bagai Abu Bakar, aku tiada kuasa, mustahil! Menjadi Umar, tubuhku begitu rapuh dan dengan kerapuhanku masih berani menampilkan kesombongan dan keangkuhan. Tidak juga menjadi seorang kaya seperi Usman. Ampun,…bagaimana aku bisa hidup bersama Rasulullah jika itu semua tidak bisa au perankan?

Anganku masih ku coba untuk tetap ingin hidup di masa Rasulullah,…. kulihat seorang pemuda Ali bin Abi Thalib. Sepertinya sebagai pemuda aku mampu untuk peran sebagaimana yang diperankannya. Ku baca dan ku cari apa yang perbuatnya agar aku bisa mencontoh perannya.
Subhanallah,…. aku terpental keluar, bagaimana aku mampu berperan sebagai pemuda yang penuh dengan rasa kuat menimba ilmu, bagaimana aku mampu hidup dengan penuh zuhud tanpa apa-apa, bagaimana aku mampu mengangkat pedang maju ke medan perang terdepan sementara aku masih muda belia dan penuh keinginan dan kebutuhan untuk dipuaskan?

Masya Allah,….. astaghfirullah,Ya Allah ampunilah angan ku yang tidak mau menerima takdir-Mu untuk hidup di masa ini, yang dengan ini semua Engkau curahkan segala Rahmat-Mu tak perduli aku patuh untuk beribadah kepadaMu ataupun tidak. 

Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah menyempurnakan risalah Nabi Muhammad SAW. Ampuni dan berikanlah aku petunjukMu untuk berpegang teguh kepada wasiat Nabi-Mu, Al-Quran dan Al-Hikmah (hadist-hadistnya).
Berikan aku kemudahan dan kefahaman hanya dari Petunjuk dan Ridho-Mu Ya Allah….

Bismillahi Allahu Akbar!

Add comment 12 November 2008


Halaman

Penulis di Blog-ku

1356

Flexibel Blog

Link-link Penting

Sponsor

Kategori Tulisan

Tulisan Terakhir

Komentar Pengunjungku

Arsip Tulisan

Kalender

November 2008
M T W T F S S
« Aug   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Infokom

Blog Stats

MyAdmin

Web Hosting Gratis

Free Website Hosting